Sanur Strand

Sanur Strand
Dezember, 26.2010

Sabtu, 19 November 2011

SUKU ASMAT

Sungai dan Kehidupan Suku Asmat - Papua
Agats, Rawa dan sungai adalah kehidupan pesisir di Papua.Sungai yang bermuara ke Laut Arafura ibarat darah bagi penduduk di pedalaman,salah satunya Suku Asmat yang tinggal di Kampung Syuru, Distrik Agats,Kabupaten Asmat.Mereka sangat tergantung dengan Sungai Asewetsj.Sungai Asewetsj adalah kehidupan bagi mereka.Saban hari, laki-laki dan perempuan dengan perkasa tegap berdiri di atas perahu lesung mengayunkan dayung, menyisir sungai untuk menangkap ikan. Ada pula yang memanfaatkan air pasang untuk pergi ke bivak (semacam kebun di dekat hutan sagu), atau mencari air di dusun tengah hutan.

Kehidupan di Kampung Syuru memang tampak keras. Tapi mereka hidup sederhana, tak serakah dan bersahabat dengan alam. Salah satu tetua adat Syuru, Felix Owom, meyakini Syuru sebagai dusun tertua atau tempat asal-muasal orang Asmat. Dari sana kemudian orang Asmat menyebar ke berbagai daerah. Banyak cerita, salah satunya, konon, Fumeripits yang dikenal sebagai manusia pertama terdampar di Syuru ketika perahunya terbalik disapu badai. Fumeripits yang tampan lalu dihidupkan oleh burung elang. Lama-kelamaan Fumeripits kesepian tanpa teman. Dia kemudian membuat patung dari kayu pohon berwujud perempuan dan sebuah tifa.

Sambil menari, tifa dipukul kencang-kencang. Tiba-tiba patung perempuan itu ikut menari. Juga patung-patung lain yang dibuatnya. Barangkali itu sebabnya sebagian orang meyakini konon Asmat berasal dari sebutan asmat-ow yang berarti “kami manusia sejati” atau as-asmat, yakni “kami manusia pohon”.
Falsafah manusia sejati kemudian mereka wujudkan dalam kehidupan yang dekat serta menghargai alam. Mereka tak macam-macam. Saat musim kering berkepanjangan, setiap keluarga di sana hanya sibuk membuat perahu dari kayu Ci. Pembuatan perahu rata-rata membutuhkan waktu lebih dari sebulan dan setiap keluarga bisa membuat lebih dari dua perahu.

Selain sederhana, mereka pun sangat menghargai kebudayaan yang sudah turun temurun. Salah satunya adalah ritual menyambut panglima besar Suku Asmat yang juga Bupati Kabupaten Asmat. Upacara penyambutan biasanya dilakukan di tengah sungai. Kala itu, mereka mendapat kabar sang panglima sudah sampai di Kampung Ewer, tetangga kampung terdekat dengan Kampung Syuru. Mereka pun segera menaiki sampan untuk menyambutnya di tengah Sungai Aswet yang melintasi Kampung Ewer.
Suku Asmat memang terpisah menjadi tujuh distrik dengan jumlah populasi sekitar 80 ribu jiwa. Setiap distrik dipisahkan oleh rawa dan sungai. Namun mereka biasa berkumpul dalam sebuah rumah besar sebelum acara penyambutan. Bentuk fisik arsitektur Suku Asmat digolongkan dalam dua tipe, yaitu Jew (rumah bujang) dan Tsjewi (rumah tempat tinggal keluarga batih). Jew memiliki tempat yang istimewa dalam kehidupan masyarakat Asmat.

Mereka berdandan layaknya prajurit yang siap melindungi keselamatan suku mereka. Mereka akan bergegas menuju perahu kala mendengar sang pemimpin sudah tiba. Sambil menyusuri Sungai Aswet, mereka berteriak ke penjuru desa sambil membentuk formasi perahu lesung yang masing-masing bisa berbobot empat kuintal dengan panjang hingga dua meter. Formasi adalah bentuk tarian perang yang kini menjadi ritual penting dalam menyambut tamu. Selain budaya, penduduk Kampung Syuru juga amat piawai membuat ukiran seperti Suku Asmat umumnya. Ukiran bagi Suku Asmat bisa menjadi penghubung antara kehidupan masa kini dengan kehidupan leluhur. Di setiap ukiran bersemayam citra dan penghargaan atas nenek moyang mereka yang sarat dengan kebesaran Suku Asmat.

Patung dan ukiran umumnya mereka buat tanpa sketsa. Bagi Suku Asmat kala mengukir patung adalah saat di mana mereka berkomunikasi dengan leluhur yang ada di alam lain. Itu dimungkinkan karena mereka mengenal tiga konsep dunia: Asmat ow Capinmi (alam kehidupan sekarang), Dampu ow Capinmi (alam persinggahan roh yang sudah meninggal), dan Safar (surga). Mereka percaya sebelum memasuki dunia surga, arwah orang yang sudah meninggal akan mengganggu manusia. Gangguan bisa berupa penyakit, bencana bahkan peperangan. Maka, demi menyelamatkan manusia serta menebus arwah, mereka yang masih hidup membuat patung dan menggelar pesta seperti pesta Patung Bis (Bispokombi), pesta topeng, pesta perahu, dan pesta ulat sagu.

Konon patung Bis adalah bentuk patung yang paling sakral. Namun kini membuat patung bagi Suku Asmat tidak sekadar memenuhi panggilan tradisi. Sebab hasil ukiran itu juga mereka jual kepada orang asing di saat Pesta Ukiran. Mereka tahu hasil ukiran tangan dihargai tinggi antara Rp 100 ribu hingga jutaan rupiah di luar Papua.Namun penghargaan terhadap leluhur tidak hanya dalam bentuk ukiran patung. Suku Asmat juga mempersembahkan tarian yang mereka sebut jew bu atsj. Tarian menceritakan asal usul nenek moyang mereka. Selain itu, mereka juga sering menarikan tari pirang, tari bakar batu dan tari jos panpacar dengan iringan alat musik tradisional yang disebut tifa. http://chipmunkjumpink.wordpress.com/




Bertahtakan mahkota bulu-bulu burung Kasuari, pria dengan wajah corang-coreng cat memainkan tifa. Ketika bunyi tabuhannya semakin keras, muncullah tiga pria lain dengan kostum serupa. Keempat pria tersebut lantas menari dengan iringan musik rancak khas Papua.
Cuplikan adegan pertunjukan tari tersebut merupakan perwujudan legenda asal usul suku Asmat di Papua. Legenda tersebut diwujudkan dengan apik lewat karya Darlane Litaay bertajuk MBIS dalam Festival Cak Durasim (FCD) 2008 di Gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur tadi malam (13/11).
Menurut sebuah versi, suku Asmat berasal dari seorang dewa bernama Fumeripits. Karena bosan hidup sendirian, dewa tersebut menciptakan patung-patung berbentuk manusia dari kayu. Tidak hanya membuat patung, dia juga menciptakan sebuah alat musik dari kayu yang dinamakan tifa. Ketika alat musik tersebut dipukul keras-keras, patung-patung manusia itu pun hidup.
Adegan dewa Fumeripits yang tengah memukul tifa tersebut diperankan dengan baik oleh sang penata tari, Darlane. Lewat gerak tari yang menggambarkan satu adegan magis, Darlane menggerakkan tubuhnya dengan lincah.
Legenda tersebut memang tidak disajikan lewat sejumlah adegan. Empat penari termasuk Darlane lebih memilih menyuguhkan legenda tersebut lewat simbol-simbol yang diwujudkan dalam gerak dan musik.
Dalam balutan kostum yang terdiri dari mahkota yang terbuat dari bulu burung kasuari, kakaktua dan cenderawasih, rumput atau alang-alang yang dikreasikan menjadi rok serta tidak lupa kalung dengan bandul taring babi, para penari bergerak membentuk berbagai formasi. Salah satunya formasi berjajar di lantai, di mana mereka menari dalam posisi telentang menyamping di lantai. Dalam posisi tersebut, keempatnya membentuk formasi yang mirip dengan patung jika dilihat dari depan.
”Itu salah satu bentuk simbolisasi berupa patung manusia dari kayu,” jelas pria 24 tahun itu.
Keunikan tidak hanya terletak pada kostum, gerak tari ataupun musiknya. Dalam pertunjukan tari kontemporer tersebut, Darlane sempat menyisipkan beberapa gerakan patah-patah khas hip hop. “Saya memang ingin memadukan beberapa unsur dalam karya saya yang merupakan perpaduan tari tradisional dan kontemporer,” tutur pria kelahiran 7 Agustus 1984 itu.
Selain pertunjukan tari MBIS, FCD juga menampilkan tari Gambar Cahaya karya koreografer Shinta Yuniar Utami asal Surabaya, dan tari 115-on Click karya Nungki Nurcahyani dari Solo.
Malam ini, giliran Hamzah Fansuri (Surabaya) akan menampilkan karya monolog Arthur S. Nalan bertajuk Prodo Imitatio. Selain itu juga akan tampil Lanjong Kutai Kertanegara dan penampilan dari Taman Budaya Samarinda, Kaltim
Diposkan oleh Bad boyz Blog di 02:25




Wajah Suku ASMAT Di Balik Kemasyuran Ukiran dan Pahatan TradisionAL

Asmat selalu diindentikan dengan patung ukiran atau pahatan tradisional. Hal ini disebabkan karena pahatan atau ukiran tradisional telah diekspose keluar oleh berbagai kalangan, baik pemerintah maupun swasta di Indonesia dalam bentuk festival budaya baik di Agast maupun di Jayapura, Bali, Jogja dan Jakarta ataupun di luar negeri seperti di KBRI Denhag Belanda pada tanggal 28 Agustus – 5 September 2008 dalam rangka mengundang dunia, mempromosikan Trade, Tourism and Investment (TTI) serta mendukung pembangunan Kawasan Timur Indonesia(Laporan Radio Heelvezen, Belanda, Jam 18.30 WIB, 6 September 2008). Terlebih lagi Asmat telah ditetapkan sebagai situs warisan budaya dunia oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa pada bulan Februari 2004(Kompas, Februari 2004).
Patung pahatan atau ukiran yang diikutkan dalam fenstifal ini selalui dijual dengan cara dilelang. Keungunan masing-masing pahatan biasanya mencapai Rp. 40 Juta perbuah dan paling rendah Rp. 1 juta. Patung pahatan atau ukiran ini bisa semahal seperti ini karena gambar atau image dalam patung tersebut menceritakan secara apik tentang suatu kisah yang dialami oleh seseorang tertentu atau suatu kelompok masyarakat tertentu di lingkungan suku Asmat.
Namun demikian seni-seni ukiran atau pahatan yang muncul ke permukaan ini merupakan sebagian kecil dari wajah orang Asmat di Papua dan potensi SDAnya. Karena itu dalam tulisan ini penulis ingin memaparkan gambaran umum tentang siapa, bagaimana dan di mana mereka ada dan sedang hidup serta kondisi rill mereka saat ini.
Suku Asmat adalah salah satu suku dari 315 suku asli/pribumi Tanah Papua[1] yang hidup di dua wilayah, yakni (a)wilayah pesisir pantai selatan Papua atau di tepi sungai, kehidupan keseharian mereka suka mencari ikan, meramu (menokok sagu) dan berburu serta (b) di wilayah pedalaman yaitu masyarakat asmat yang hidup di daerah rawa-rawa dan sungai serta danau, mereka suka mencari ikan, nelayan, meramu(menokok sagu) dan namun tidak bercocok tanam. Barangkali karena tinggal di dua wilayah yang berbeda sehingga mereka memiliki perbedaan dialek bahasa, cara hidup, strata sosial dan pesta ritual.
Terlepas dari dua perbedaan di atas, suku Asmat sendiri sebenarnya terdiri dari dua belas sub suku, yakni: Joirat, Emari Ducur, Bismam, Becembub, Simai, Kenekap, Unir Siran, Unir Epmak, Safan, Armatak, Brasm dan Yupmakcain. Pembagian sub suku ini terjadi dalam lingkungan masyarakat Asmat sendiri akibat tempat tinggal, kiat menyikapi lingungan serta persebaran masing-masing kelompok masyarakat dalam suku Asmat.
Sedangkan kata Asmat itu sendiri bermakna manusia kayu atau pohon. Versi kedua mengenai makna kayu adalah masyarakat Asmat meyakini bahwa yang pertama kali muncul di permukaan bumi adalah pohon-pohonan. Pohon-pohon itu adalah ucu (beringin) dan pas (kayu besi), yang diyakini sebagai perwujudan dua mama tua yaitu Ucukamaraot (roh beringin) dan Paskomaraot (roh kayu besi). Barang kali keyakinan mistis inilah yang memberikan kesan bahwa ukiran atau pahatan kayu yang dibuat orang Asmat itu sangat ‘berjiwa’.

Pahatan Tradisional Suku Asmat
Kondisi Geografis Asmat dan data Geografi Kabupaten Asmat
Wilayah yang mereka diami sangan unik. Dataran coklat lembek yang tertutup oleh jaring laba-laba sungai. Di bagian utara, kaki Pegunungan Jayawijaya atau kabupaten Puncak Jaya dan Nduga Jaya, Bagian timur kabupaten Mappi dan Merauke bagian selajatan Lautan Arafura serta bagian barat dengan Kabupaten Mimika.
Wilayah yang didiami oleh Suku Asmat ini telah menjadi Kabupaten sendiri dengan nama KABUPATEN Asmat dengan 7 kecamatan atau Distrik. Hampir semua wilayahnya berada di tanah berawa. Hampir setiap hari hujan turun dengan curah 3.000-4.000 milimeter per tahun. Setiap hari juga pasang surut laut masuk ke wilayah ini, sehingga tidak mengherankan kalau permukaan tanah sangat lembek dan berlumpur. Jalan hanya dibuat dari papan kayu yang ditumpuk di atas tanah lembek. Praktis tidak semua kendaraan bermotor bisa melalui jalan ini. Orang yang berjalan harus berhati-hati agar tidak terpeleset, terutama saat hujan.
Transportasi
Alat tranpotasi yang digunakn untuk menjangkau daerah ini(Asmat) baik masuk keluar Asmat ataupun atara kecamatan/distrik di Asmat adalah dengan menggunangan alat transportasi transportasi air melalui sungai, yaitu perahu, longboat, dan speedboat. Tiket kapal perintis tujuan Merauke-Agats Rp 50.000-Rp 100.000. Perjalanan ditempuh dua hari dua malam jika cuaca normal. Bila cuaca buruk, perjalanan bisa sekitar lima hari. Kapal perintis tak hanya berlabuh di Agats, tapi di Distrik Atsy, Sawa Erma, dan Pantai Kasuari yang berbatasan dengan Laut Arafuru.
Transportasi udara sangat mahal dan terbatas. Hanya Distrik Agats dan Pantai Kasuari yang terjangkau transportasi udara. Agats mempunyai lapangan terbang dengan landasan 600 x 20 meter menggunakan permukaan landasan tikar baja. Bandara Ewer ini bisa didarati pesawat twin otter Merpati dan Mimika Air dengan rute Jayapura, Timika, Agats. Sedangkan bandara di Pantai Kasuari permukaan landasannya tanah pasir dan batu dan hanya didarati pesawat Merpati rute Merauke-Pantai Kasuari. Intensitas penerbangan menuju Agats dan Pantai Kasuari seminggu dua sampai tiga kali. Namun, ongkos perjalanan sekitar Rp 800.000 dirasa sangat mahal bagi masyarakat setempat.[2]
Makanan Pokok
Makanan pokok orang Asmat adalah sagu. Hampir setiap hari mereka makan sagu yang dibuat jadi bulatan-bulatan dan dibakar dalam bara api. Kegemaran lain adalah makan ulat sagu[3] yang hidup di batang pohon sagu. Biasanya ulat sagu dibungkus daun nipah, ditaburi sagu, dan dibakar dalam bara api. Selain itu, sayuran dan ikan bakar dijadikan pelengkap
Namun demikian yang memprihatinkan adalah masalah sumber air bersih. Air tanah sulit didapat karena wilayat mereka merupakan tanah berawa. Terpaksa menggunakan air hujan dan air rawa sebagai air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Rumah Tradisional
Rumah tradisional Asmat adalah jeu dengan panjang sampai 25 meter. Sampai sekarang masih bisa dijumpai rumah tradisional ini jika kita berkunjung ke Asmat pedalaman. Bahkan masih ada juga di antara mereka yang membangun rumah tinggal di atas pohon.
Agama
Masyarakat suku Asmat beragama Katolik, Protestan dan Animisme yakni suatu ajaran dan praktek keseimbangan alam dan penyembahan kepada roh orang mati atau patung[4].
Bagi suku Asmat, ulat sagu merupakan bagian penting dalam ritual mereka. Setiap ritual ini diadakan, dapat dipastikan kalau banyak sekali ulat yang dipergunakan(Kal Muller, Mengenal Papua, 2008, hal 31).
Sumber Daya Alam
Selain ikan, cucut, kepiting, udang, teripang, dan cumi-cumi ikan penyu dan hewan air lainnya yang merinpah ruah, daerah Asmat juga memiliki sumber daya alam yang aman luar biasa seperti: Kayu, rotan, gaharu, kemiri, kulit masohi, kulit lawang, damar, dan kemenyan.
Wanita dalam Pandangan suku Asmat
Simbolisasi perempuan dengan flora dan fauna yang berharga bagi masyarakat Asmat (pohon/kayu, kuskus[5], anjing[6], burung kakatua dan nuri[7], serta bakung[8]) seperti arti kata Asmat di atas, menunjukkan bagaimana sesungguhnya masyarakat Asmat menempatkan perempuan sebagai makhluk yang sangat berharga bagi mereka. Hal ini tersirat juga dalamberbagai seni ukiran dan pahatan mereka. Namun dalam gegap gempitanya serta kemasyuran pahatan dan ukiran Asmat, tersembunyi suatu realita derita para ibu dan gadis Asmat yang tak terdengar oleh dunia luar.
Derita perempuan Asmat adalah menjadi pelakon tunggal, dalam menghidupi suku tersebut. Setiap harinya mereka harus menyediakan makanan untuk suami dan anak-anaknya, mulai dari mencari ikan, udang, kepiting dan tambelo sampai kepada mencari pohon sagu yang tua, menebang pohon sagu, menokok, membawa sagu dari hutan memasak dan menyajikan. Setelah itu mencuci tempat makanan atau tempat masak termasuk mengambil air dari telaga atau sungai yang jernih untuk keperluan minum keluarga.
Sementara itu kegiatan laki-laki Asmat sehari-harinya adalah menikmati makanan yang disediakan istrinya, mengisap tembakau, dan berjudi. Kadang suami membuat rumah atau perahu, namun dengan bantuan istri. Ada pula suami yang mau menemani istri mencari kayu bakar. Sayangnya mereka benar-benar hanya menemani. Mendayung perahu, menebang kayu, dan membawanya pulang adalah tugas istri. Suami yang cukup berbaik hati akan membantu membawakan kapak istrinya.
Jika istri tidak menyiapkan permintaan suaminya seperti sagu atau ikan, maka istri akan menjadi korban luapan kemarahan. Jika mereka kalah judi, maka istri pula yang akan dijadikan obyek kekesalan. Mereka yang tinggal di Agats, kini terbiasa pula untuk mabuk karena minuman keras telah dijual bebas. Saat mereka mabuk, mereka lebih rentan untuk mengamuk sehingga istri pun akan lebih banyak menerima tindak kekerasan.

Kamoro Woman
Kadangkala laki-laki Asmat mengukir jika mereka ingin atau jika hendak menyelenggarakan pesta. Ketika laki-laki mengukir, maka tugas perempuan akan semakin bertambah. Perempuan harus terus menyediakan sagu bakar dan makanan lain yang diinginkan suami mereka agar dapat terus bertenaga untuk mengukir. Semakin lama laki-laki mengukir, semakin banyak pula jumlah makanan yang harus mereka sediakan. Hal itu berarti akan semakin lelah perempuan Asmat karena harus memangur, meramah, dan mengolah sagu, dan bahkan menjaring ikan. Lebih tragisnya lagi, jika ukiran itu dijual maka uangnya hanya untuk suami yang membuatnya. Perempuan Asmat tidak menerima imbalan apapun untuk jerih payahnya menyediakan makanan. Padahal tanpa makanan itu, satu ukiran pun tidak akan selesai dibuat(Dewi Linggasari, 2004, Yang Perkasa Yang Tertindas. Potret Hidup Perempuan Asmat. Yogyakarta : Bigraf Publishing, bekerja sama dengan Yayasan Adhikarya IKAPI dan The Ford Foundation. Hal. 22).
Bencana Asmat
Bencana bagi suku Asmat kurang lebih ada 3 yakni: (a) penyakit malaria[9], (b)buaya, (c)HIV/AIDS[10]. Setelah virus HIV-AIDS marak di Asmat dan mulai merenggut korban jiwa, semakin bertumpuk daftar persoalan yang harus dihadapi pemda dan seluruh masyarakat Asmat. Sebagai sebuah kabupaten baru yang tengah sibuk-sibuknya melakukan pembenahan infrastruktur dan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam rangka menyelenggarakan sebuah pemerintah baru, dalam berbagai aspek, berjangkitnya HIV-AIDS ini merupakan sebuah pukulan telak yang bakal menyedot dana, waktu, tenaga dan pikiran dari segenap komponen masyarakat Asmat, instansi-instansi terkait dalam jajaran pemerintahan Kabupaten Asmat khususnya dan sudah pasti butuh pemerintah pusat perlu segera mengambil langkah-langkah penanggulangannya(Antonius Ruto Leza, mantan guru di Agats- Asmat antara 1988-1996-Sinar Harapan 2003).
________________________________
Daftar Kepustakaan
1. Laporan Radio Heelvezen, Belanda, Jam 18.30 WIB, 6 September 2008
2. Dr.Kal Muller, Mengenal Papua, 2008;
3. Rudolf Pigay, STh -Makalah Penelitian Budaya Suku Kamoro-Sagu dan Tambelo, November 2008;
4. Suara Merdeka 2005;
5. M Puteri Rosalina, Litbang Kompa, Kompas
6. Dewi Linggasari, 2004, Yang Perkasa Yang Tertindas. Potret Hidup Perempuan Asmat
7. Kompas Cyber Media, Minggu 03 Agustus 2003.
8. Sinar Harapan 2003
9. Kompas, Februari 2004.
________________________________________
[1] Para ahli sosiologi antropologi membagi suku-suku di Papua menjadi lima rumpun besar berdasarkan tinjauan linguistik yakni: (a)Trans-New Guineam Phylum, (b)geelvink Bay Phylum, (c)East Vogelkop Phylum, (d)West Papuan Phylum, (e)Austronesia(Non-Papuan) Language). Suku Asmat termasuk dalam kelompok suku Trans-New Guineam Phylum-Manusia pemilik pulau Papua yang telah hidup ratusan ribu tahun yang lalu(Dr.Kal Muller, Mengenal Papua, 2008, hal 61).
[2] Perlu diketahui bahwa tidak ada jalan darat yang dapat dibangun di Asmat karena sebagian besar wilayah adalah rawa-rawa baik itu antara desa dan kecamatan apalagi dengan kabupaten lain.
[3] Suku Kamoro yang hidup dipesisir pantai kabupaten di Mimika menyebutkan ulat sagu itu dengan nama Tambelo(Rudolf Pigay-Makalah Penelitian Budaya Suku Kamoro-Sagu dan Tambelo, November 2008).
[4] Masyarakat Asmat terkenal memiliki religiusitas yang tinggi terutama dengan keseimbangan kehidupan yang dikaitkan dengan mitos dan pertolongan roh nenek moyang. Orang Asmat mengenal tiga dunia. Capmbinak atau asmat-ow adalah dunia makhluk hidup yaitu di dunia ini. Kemudian ada Capininiatau damer-owyaitu alam gaib dan roh-roh yang merupakan sumber ketakutan. Orang Asmat percaya bahwa nenek moyang mereka berada di sebuah tempat yang disebut Safan atau Ji-owatau dalam konsep orang beragama monoteis disebut surga.
Harmoni dan kedamaian bagi orang Asmat bersumber dan terjaga hanya dengan menjaga keseimbangan di antara tiga dunia itu. Untuk menjaga kesimbangan antara ketiganya harus dipenuhi dengan kewajiban ritual tertentu yang dilakukan secara periodik. Mengukir adalah salah satu bagian dari ritual yang merupakan bagian dari pemujaan nenek moyang yang dikaitkan dengan keseimbangan ini(Suara Merdeka 2005).
[5] Perempuan juga dipandang sebagai kuskus yang menggendong anak, yang mana kuskus bagi suku Asmat merupakan binatang sakral penjelmaan roh nenek moyang.
[6] Perempuan dalam suku Asmat juga disebut sebagai cem aman juri, yaitu anjing yang selalu menjaga serta menghadang musuh yang mengganggu tuannya. Anjing juga diyakini sebagai binatang pembawa api bagi manusia.
[7] Perempuan juga dipandang sebagai beyor atau burung nuri, dan ir (burung kakatua putih). Burung-burung itu adalah simbol kehadiran roh nenek moyang.
[8] Perempuan sebagai taar, bunga bakung berwarna merah dan indah yang juga merupakan simbol roh nenek moyang. Sebagai taar, perempuan tidak hanya dianggap cantik parasnya tetapi juga cantik hatinya.
[9] Malaria adalah penyakit endemik Papua,
[10] Oknum aparat keamanan diduga keras terlibat bisnis seks dengan cara barter antara wanita pekerja seks dengan kayu gaharu di berbagai distrik di Kabupaten Asmat, Propinsi Papua. Sejumlah tokoh masyarakat dan perempuan kepada Antara, di Agats, ibukota Kabupaten Asmat, Minggu (3/8) menuturkan, oknum aparat keamanan itu memasok wanita pekerja seks dari Jawa, Manado, Maluku Tenggara, Timika dan Sorong ke beberapa distrik di Kabupaten Asmat. Para pekerja ini diangkut dengan kapal mewah PT. Pelni KM Sangiang yang masuk ke daerah itu sebulan dua kali melalui pelabuhan Agats. Di samping itu, para oknum aparat itu membuka bar mini, karaoke, biliar dan memasarkan minuman keras di sepanjang beberapa sungai di Asmat dengan mempekerjakan para wanita tersebut. Hal ini menimbulkan keresahan masyarakat setempat.Untuk imbalannya, para lelaki setempat terutama kepala keluarga harus mencari kayu gaharu dihutan belantara. Para lelaki itu bila bermain seks harus memberikan kayu gaharu di sebuah kaleng cat besar. Satu kaleng cat berisikan lima hingga tujuh kilogram seharga Rp500.000/kg untuk sekali bermain seks. Transaksi seks dengan gaharu itu terjadi di Kampung Binaam/Atsi dan Kampung Waganu di Distrik Swator serta Kampung Manep dan Buetkwar di Diatrik Akat.
Parahnya lagi, kepergian kaum bapak itu mengakibatkan kehidupan anak dan istri terbengkelai bahkan terjadi keretakan rumah tangga karena dikhawatirkan suami terinfeksi virus HIV/AIDS.
Kapolsek Agats, Bripda Yoel Krey yang dikonfirmasi membenarkan transaksi itu. Tetapi pihaknya tidak terbuat banyak karena TNI-lah yang menjadi dalang transaksi tersebut.”Para ibu selalu mengadu, namun polisi tak berbuat banyak mengatasi masalah ini karena dibelakangnya ada oknum aparat keamanan yang mendalangi kegiatan itu,” ujarnya(Kompas Cyber Media, Minggu 03 Agustus 2003).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar